Konservasi Penyu Retak Ilir Muko-Muko,Bengkulu


Pantai Retak Ilir
Provinsi Bengkulu terkenal denga wisata Pantai Panjang yang saat ini pembangunannya sedang giat dilakukan. Selain Pantai Panjang, sebenarnya masih banyak pantai di wilayah Bengkulu yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Salah satu contoh diantaranya yakni Pantai Desa Retak Ilir Kecamatan Ipuh Mukomuko. Dilihat dari potensinya, aset ini tak kalah dengan Pantai Panjang yang ada di Kodia Bengkulu karena selain memiliki pemandangan yang tidak kalah indah Pantai Desa Retak Ilir ini mempunyai potensi sebagai tempat konservasi penyu laut
Namun sayangnya, hingga saat ini potensi itu belum tergarap maksimal

SEJARAH KAWASAN EKOWISATA DAN KONSERVASI PENYU RETAK ILIR
Kawasan Retak Ilir berjarak 5 km dari ibu kota Kecamatan Ipuh namun akses jalan masuk yang masih berupa jalan pengerasan dan belum tersedianya alat transportasi umum.
Dari ibu kota provinsi kawasan ini berjarak sekitar 173 km sedangkan dari ibu kota kabupaten berjarak sekitar 95 km, untuk mencapai kawasan ini dari ibu kota provinsi sebetulnya telah banyak tersedia sarana umum yang dapat kita gunakan seperti bus antar kota dalam provinsi Bengkulu – Mukomuko (Ibu Kota Kabupaten Mukomuko) atau bus antar kota antar provinsi Bengkulu-Padang atau Travel yang dari Ibu kota provinsi memerlukan waktu sekitar 4 jam perjalanan akan tetapi cuma sampai jalan besar sedangkan untuk masuk ke kawasan kita harus menyewa motor karena belum ada sarana transporatasi umum yang melayani rute tersebut.
Kawasan Retak Ilir merupakan desa tua pesisir yang pada zaman Belanda jalan lintas barat sumatera melewati desa ini. Namun akibat ombak besar yang terjadi pada tahun 1980an, sebagian penduduk Desa Retak Ilir yang berada di wilayah pantai berpindah ke arah hulu dengan membentuk 2 desa baru yakni Desa Retak Mudik dan Desa Gajah Mati. Sisa-sisa pondasi Desa Retak Ilir lama masih bisa dilihat sampai saat ini.
Ditinjau dari sisi sosial budaya masyarakat Retak Ilir berasal dari salahsatu suku asli Bengkulu yakni suku pekal. Umumnya masyarakat menggunakan bahasa pekal dalam berkomunikasi. Dilihat dari sisi arsitektur lokal bangunannya, arsitektur bangunannya tidak berbeda jauh dengan arsitektur tradisional Mukomuko. Mata pencaharian mayoritas penduduk adalah berkebun walaupun Desa Retak Ilir berada di wilayah pesisir. Hasil perkebunan dominan di Desa Retak Ilir adalah kepala sawit, karet dan padi ladang.
Sejak tahun 2004, oleh para penyuluh pertanian Medan Jaya dan masyarakat kawasan Retak Ilir mengembangkan konservasi penyu sebagai ikon utama Kecamatan Mukomuko Selatan saat itu (Sekarang Kec.Ipuh). Dari 6 jenis penyu yang ada di Indonesia, 4 diantaranya masih bisa dijumpai disini. Kegiatan konservasi ini disambut baik oleh pemerintah daerah Mukomuko melalui perhatian yang sangat serius dalam rangka melestarikan penyu sekaligus mengembangkan kawasan Retak Ilir sebagai daerah tujuan wisata khususnya ekowisata. Berbagai dampak positif mulai dirasakan oleh masyarakat Desa Retak Ilir setelah melestarikan penyu. Desa Retak Ilir yang tadinya tidak memiliki daya tarik bagi penduduk sekitar, saat ini telah berkembang menjadi desa yang cukup populer. Desa Retak Ilir merupakan contoh keberhasilan penangkaran penyu di Provinsi Bengkulu. Seiring semakin berkembangnya pariwisata di Desa Retak Ilir, pemerintah daerah Kabupaten Mukomuko telah berupaya mendukung kegiatan di Desa Retak Ilir melalui pembangunan jembatan, pembuatan baliho dan bantuan bagi masyarakat.

TENTANG KELOMPOK PENYU

Konservasi Penyu Desa Retak Ilir Kecamatan Ipuh Kab. Mukomuko dibuka pada Tahun 2007 oleh Kelompok Tani Penyu Lestari.
Kelompok ini dibentuk pada tanggal 9 Pebruari 2007 dengan jumlah anggota 8 orang:
Ketua : SYAFRUDIN
Sekretaris : KHAIRUL AMRA
Bendahara : HARTONI
Anggota : M. IZHAR, DESNAWATI, SYAFRENOALI, HULNIL, AWIS.

FOTO-FOTO KEGITAN KEL.PENYU LESTARI

INDONESIA BANGKIT
selain ingin share bahwa begitu banyak hal potensi alam yang kita miliki TS juga dalam kesempatan ini ingin share beberapa hal
Bahwa kita adalah satu ga ada istilah orang asli sini orang asli situ, agama ini agama itu, kita adalah satu RAKYAT INDONESIA
dah hal itulah yang mendasari dari kelompok tani penyu lestari ini karena salah satu pencetusnya adalah bukan orang asli sana, ga tinggal disana tp karena didasari satu rasa cinta negeri ini

Anggota dengan sukarela meluangkan waktu, tenaga, bahkan dana untuk operasional penangkaran penyu ini…karena Agan dan Aganwati harus tau penyusuran bibir pantai untuk memantau penyu yang naik untuk bertelur adalah malam hari dan jarak bibir pantai dari pemukiman lumayan jauh serta diperparah lagi melewati sungai yang kebetulan masih dihuni oleh buaya2 rawa tp alhamdulilah berkat bantuan pemerintah sekarang sudah dibangun jembatan gantung jadi Agan bisa bayangkan sebelum ada jembatan mereka gunakan rakit dari drum bekas.

Dan ada satu lagi cerita yang sangat miris Gan
Anak bungsu ketua kelompok tani yang saat itu baru berumur lima tahun meninggal dunia karena masuk sumur ketika hendak mengisi air untuk bak penampungan penyu ketika orang tuanya pergi ke pantai untuk menjaring ikan untuk makanan penyu di penangkaran

Jadi tetap banggalah jadi warga negara indonesia karena walau negeri ini disesaki pala polotikus B*SUK, Koruptor masih banyak indivindu2 yang membuat kita bisa membusungkan dada bahwa kita adalah INDONESIAN

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 359 other followers